Ad Clicks : Ad Views :
img

Dari Candi Borobudur ke Kampung Inggris

/
/
/
247 Views

Bismillahirrahmanirrahim..

Waktu itu liburan kuliah smester 2, saya pulang kampung ke Magelang. Kemudian saya kedatangan tamu dari Lombok namanya Raden Lalu Arifin, katanya sih, masih keturunan bangsawan, katanyaa. Dia itu teman saya kuliah di Usman Bin Affan Jakarta. Sebelum  saya pulang ke Magelang kita sudah ngomongin banyak hal, salah satunya, dia bilang kalau mau menyusul saya ke magelang.

Pagi-pagi saya menuju stasiun Yogyakarta untuk menyambut tamu keturunan Bangsawan tersebut. “saya, sudah sampai di Stasiun Yogyakarta nih” pesan Arifin lewat SMS nya. Saya langsung nyamperin dia di depan pintu keluar stasiun.

Saya ajak dia buat makan di Angkringan khas jogja, kebetulan juga sudah lama nggak ngangkring. Emang angkringan yang paling enak ya dari asalnya.

Karena udah gak sabar pingin maen ke Candi Borobudur, abis ngangkring kita langsung pergi ke Candi Borobudur, sambil bawa ransel dan juga koper, ribet dah pokoknya. Dari Malioboro naik Busway menuju terminal Jombor. Dari jombor naik lagi bus yang langsung mengarah ke Candi Borobudur. Sampai Borobudur kita naik becak langsung ke Candi Borobudur.

Setelah capek keliling borobudur dan berfoto-foto ria. Sore itu langsung pulang ke rumah dan acara hari itu di tutup dengan makan martabak spesial bikinan emak saya.

***

            Sebenarnya kunjunganya ke rumah saya tidak hanya semata ingin keliling Borobudur dan silaturahim saja, tapi ada tujuan lain yang lebih dari pada itu. Sebelum saya pulang, kita sepakat buat belajar di Kampung Inggris, tepatnya di Pare, Jawa Timur.

Dua hari berikutnya kita meluncur ke stasiun Lempuyangan naik kereta, menuju Stasiun Kediri. Dari Stasiun Lempuyangan menuju Kediri kurang lebih membutuhkan waktu lima jam perjalanan. Dalam  perjalanan kita ngobrol ngalor ngidul nggak jelas. Ada satu cerita  yang agak kocak. Ketika temen saya itu naik kereta dari jakarta ke Yogyakarta, dia duduk dengan seorang perempuan paruh baya. Nah,kemudian mereka berdua ngobrol-ngobrol, singkat cerita, si temen saya itu malah ditawarin anak perempuanya, masih gadis kok mas, barang kali minat, gitu katanya. Nawarin anaknya kaya nawarin barang. Ya, kita berdua pun malah ketawa-ketawa gak jelas di dalam kereta.

Tiba di stasiun Kediri kira-kira pukul 3 sore. Tukang becak pun langsung berdatangan. Kita seperti artis yang di kerubutin para fans.hee. dari pada pusing, kita akhhirnya berlindung di warung terdekat, sekalian makan siang. Selesai makan, kita pun naik becak, dengan ongkos 15 ribu, kita akan diantar menuju pangkalan mobil yang langsung menuju ke pare.

Sampai di pare, kita malah bingung mo cari penginapan kemana, mengingat langit mulai gelap. Setelah bertanya kesana-kesini. Akhirnya kita malah ketemu dengan seorang santri. Santri tersebut menawarkan diri buat mengantar kami mencari penginapan. Setelah muter-muter, kita dapat penginapan. Tepatnya di pesantren Darul Falah, atau biasa disebut PDF. Pesantren tersebut membuka program bahasa Inggris dan bahasa arab.

***

            Namanya kampung inggris, tapi program yang saya ambil adalah bahasa Arab. Niat dari awal emang ingin bahasa Arab. Bulan pertama, saya ngambil kursus bahasa Arab di Ocean. Disana saya sangat nyaman, bisa bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah, ada yang dari semarang, jepara, jakarta bahkan pontianak dan aceh. Jarak bukan halangan bagi mereka untuk sekedar menuntut ilmu. Melihat teman-teman pada semangat belajar, saya pun juga jadi ikut semangat.

Akhir bulan, duit sudah menipis cuman cukup buat balik ke magelang. Tapi hati ini masih ingin untuk tinggal beberapa lama lagi di sini untuk menuntut ilmu. Kemudian, saya calling sana-sini, akhirnya dapet duit untuk melanjutkan belajar saya di pare, bulan berikutnya. Di bulan kedua ini saya berencana untuk ngambil program bahasa Inggris dan Arab.

Di bulan kedua, saya baru belajar selama dua minggu. Qodarullah, saya dapat telpon dan harus segera pulang ke magelang, hari itu juga. Sedangkan teman saya Arifin, dia sudah pergi ke surabaya pada akhir bulan pertama. Duit yang sudah dibayarkan untuk program satu bulan hangus gak kepakai, karena harus pulang.

Hari itu juga saya langsung menghubungi tema
n sekamar saya, untuk minta diantar ke stasiun Kediri dan langsung menuju ke Magelang.

Sekian cerita saya yang agak kurang jelas ini, semoga bermanfaat, maklum aja, lagi belajar jadi seniman di bidang tulis menulis.

 

20150311164253-menengok-kampung-inggris-di-pare-yang-mendunia-001-dru

Terimakasih.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *